kebijakan zonasi

Kebijakan Zonasi yang Membuat Orang Tua Gigit Jari

Pendidikan bagi anak-anak itu sangat penting. Makanya banyak orang tua yang berusaha keras membuka akses ke sarana pendidikan formal kepada buah hatinya. Tak peduli berapa besar biaya yang harus dipersiapkan tetap saja mereka ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Saya rasa semua orang tua berpikiran sama terkait masalah pendidikan ini. Salah satunya bisa kita lihat dari ramainya perbincangan mengenai penerimaan siswa baru dibeberapa kota. Polemik dalam menyikapi  kebijakan zonasi yang menurut mereka tidak adil dan sangat merugikan kepentingan pendidikan bagi anak mereka. Bagaimana tidak, kebijakan zonasi justru membuat beberapa anak-anak harus gigit jari karena tidak diterima disekolah yang diinginkannya. 

dunia pendidikan

Sistim zonasi yang diterapkan secara umum bisa dipahami sebagai sebuah sistim yang diharapkan bisa membagi rata sekolah anak-anak berdasarkan lokasi terdekat dari sekolah dengan rumah tinggalnya. Untuk lebih meyakinkan, maka setiap anak-anak yang ingin mendaftar disekolah tersebut harus melampirkan Kartu Keluarga sebagai salah satu syarat. Bahkan untuk lebih memperketat dibuatkan lagi syarat dimana dalam  kartu keluarga tersebut minimal telah berdomisili selama 6 bulan. 

Bisa dibayangkan jika seorang anak yang lokasi rumahnya hanya sekitar 500 meter dari sekolah tiba-tiba keluar pengumuman bahwa anak tersebut tidak lulus karena lokasinya yang didapat dari sistim Maps berbeda. Bahkan lebih aneh lagi anak tersebut justru lolos disekolah yang jaraknya justru lebih dari 500 meter dari rumah tinggalnya. Aneh bin ajaib ya moms 😀

Iya itulah kenapa setiap penerimaan siswa baru selalu saja ramai polemik antara orang tua siswa dengan pihak terkait. Walaupun pada dasarnya sistim yang dibuat bertujuan baik tapi tetap saja pada prakteknya selalu ada pihak yang merasa dirugikan. Memang bukan pekerjaan gampang untuk merubah pola pikir sebahagain masyarakat dimana mereka masih melihat status sebuah sekolah apakah itu favorit atau tidak. Padahal kalau kita mau jujur, semua sekolah itu adalah favorit tidak ada yang dibeda bedakan. Sama juga halnya dengan pandangan bahwa semua anak anak itu pintar hanya cara kita (pendidik) yang kurang sehingga anak-anak tersebut belum memahami apa yang dipelajarinya. 

potret pendidikan

Terlepas dari polemik tersebut, sebagai orang tua saya punya pandangan tersendiri. Bahwa sudah sepatutnya kita melihat pendidikan anak-anak bukan sebatas disekolah saja. Proses belajar mengajar tak terbatas hanya pada ruang kelas melainkan lebih luas. Mari kita manfaatkan ruang ruang yang lebih banyak itu dengan sebaik mungkin sehingga nantinya anak kita mendapatkan pelajaran yang tak terbatas pada pendidikan formal saja. 

Oke sampai disini dulu ya moms, takutnya ngobrolnya malah nggak nyambung nantinya. Tetap semangat memberikan yang terbaik baik anak-anak kita 👍🏻

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *